Senin, 29 April 2013

HADITS SHAHIH

Hadits Shahih

1.       A. Arti Hadits Sahih :
Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar, yang dimaksud dengan hadits shahih adalah hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak janggal.
Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Qur’an.
B. Syarat-Syarat Hadits Shahih
Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih, maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini:
1.      Rawinya bersifat adil, artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat, menjauhi dosa-dosa kecil, tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman, dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’
2.      Sempurna ingatan (dhabith), artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya, menguasai apa yang diriwayatkan, memahami maksudnya dan maknanya.
3.      Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain; tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits.
4.      Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits)
5.      Tidak janggal, artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya.
C. Klasifikasi Hadits Shahih
1.      Hadits Shahih li-dzatih yaitu hadits shahih yang memenuhi syarat-syarat diatas.
Contoh:
Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima perkara. Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa bulan Ramadhan dan berhajji.”
2.      Hadits Shahih li-ghairih yaitu hadits yang keadaan perawinya kurang hafidz dan dlabith tetapi mereka masih terkenal orang yang jujur hingga karenya berderajat hasan, lalu didapati padanya jalan lain yang serupa atau lebih kuat, hal-hal yang dapat menutupi kekurangan yang menimpanya itu.
Contoh:
Seandainya aku tidak menyusahkan ummatku, pastilah aku perintahkan mereka untuk menggosok gigi tiap akan shalat (HR Bukhari Muslim)
Hadits ini bila kita riwayatkan dari Bukhari dan Muslim, menjadi hadits yang shahih dengan sendirinya. Karena keduanya meriwayatkan dari jalan Al-A’raj bin Hurmuz (117 H) dari Abi Hurairah ra. Isnad ini dengan jelas menetapkan keshahihan hadits.
Namun bila kita lihat lewat jalur periwayatan At-Tirmizy, maka hadits ini statusnya menjadi shahih li ghairihi (menjadi shahih karena ada hadits lainnya yang shahih). Berbeda dengan Bukhari dan Muslim, At-Tirmizy meriwayatkan hadits ini lewat jalur Muhammad bin Amir yang kurang kuat ingatannya. Lalu lewat jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah ra. Maka segala riwayatnya dianggap hasan saja. Namun karena ada riwayat yang shahih dari jalur lain, maka jadilah hadits ini shahih li ghairihi.
D. Kedudukan Hadits Shahih
Sebenarnya di dalam sebuah hadits yang berstatus shahih, masih ada level atau martabat lagi. Ada yang tinggi nilai keshahihannya, ada yang menengah dan ada yang agak rendah.
Semuanya disebabkan oleh nilai kedhabitan (kekuatan ingatan) dan keadilan perawinya. Ada sebagian perawi yang punya kekuatan ingatan yang melebihi perawi lainnya. Demikian juga dari sisi ‘adalah-nya, masing-masing punya nilai sendiri-sendiri.
Kalau kita susun berdasarkan kriteria itu, maka kita bisa membuat daftar berdasarkan dari yang nilai keshahihannya paling tinggi ke yang paling rendah.
1.      Ashahhu’l-asanid
Hadits yang bersanad ashahhu’l-asanid, predikat ini seringkali juga dikatakan dengan istilah silsilatuz-zahab. Diantara yang mencapai level tertinggi adalah:
o    Az-Zuhri (Ibnu Syihab Al-Quraisi Al-Madani, seorang tabi’i yang jalil) dari Salim bin Abdullah dari ayahnya (Abdullah bin Umar ra).
o    Muhammad bin Sirin dari Abidah bin Amr dari Ali bin Abi Thalib ra.
o    Ibrahim an-Nakha’i dari ‘Alqamah dari Ibnu Mas’ud ra.
Al-Bukhari mengatakan bahwa ashahhul asanid adalah sanad dari Nafi’ dari Ibnu Umar ra. Sedangkan Abu Bakar bin Abi Syaibah mengatakan bahwa Ashahhul asanid adalah sanad Az-Zuhri dari Ali bin Al-Nusain dari ayahnya (Al-Husain bin Ali).
2.      Muttafaq-‘alaihi
Yaitu hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya oleh kedua imam hadits, Bukhary dan Muslim. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga oleh Muslim dengan riwayat yang satu dan mereka berdua sepakat menshahihkannya. Diantara kitab-kitab yang mengumpulkan hadits yang berstatus muttafaq alaihi ini adalah ‘Umdatul Ahkam karya Al-Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi (541-600H).
3.      Infrada bihi’l Bukhary
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary sendiri, sedang Imam Muslim tidak meriwayatkan.
4.      Infrada bihi’l Muslim
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sendiri, sedang Imam Bukhary tidak meriwayatkan.
5.      Shahihun ‘ala syartha’i’l-Bukhary wa Muslim
Hadits Shahih yang tidak secara langsung dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, melainkan hadits itu telah memenuhi kriteria atau syarat-syarat Bukhari-Muslim. Hadits dengan status seperti ini disebut dengan istilah Shahihun ‘ala syartha’i’l-Bukhary wa Muslim. Meski keduanya tidak meriwayatkan. Syarat-syaratnya yaitu rawi-rawi hadits yang dikemukakan terdapat dalam kedua kitab shahih Bukhary atau Shahih Muslim.
Dikatakan demikian karena ada hadits tertentu yang tidak terdapat di dalam kitab shahih Bukhari atau kitab Shahih Muslim, namun memiliki perawi yang terdapat di dalam kedua kitab itu. Karena perawinya diterima oleh Bukhari dan Muslim, maka meski hadits itu tidak tercantum di dalam kedua kitab shahih, derajatnya dikatakan sebagai shahih juga, namun dengan tambahan kata ‘ala syarti albukari wa muslim.
6.      Shahihun ‘ala syarthi’i’l-Bukhary
Hadits Shahih yang menurut syarat Bukhary sedang beliau tidak meriwayatkannya.
7.      Shahihun ‘ala syarthi’i’l-Muslim
Hadits Shahih yang menurut syarat Muslim sedang beliau tidak meriwayatkannya.
8.      Hadits Shahih lainnya
Yaitu yang tidak menurut salah satu syarat dari Imam Bukhari dan Muslim

KALIMAH THOYIBAH


Rasulallah bersabda," Barangsiapa yang mencintai Sunnahku maka, dia cinta kepadaku dan barangsiapa cinta kepadaku maka, dia akan bersama-sama denganku di dalam syurga,"
Kalimah Toyyibah
     Arti kalimah Laa ila ha illallah Muhammadur rasulullah adalah tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Apabila kita mengucapkan Kalimah ini dengan ikhlas dan yakin terhadap kalimah ini, makankita telah membuat suatu perjanjian dengan Allah Taala bahawa kita akan mematuhi segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Laa ila ha illallah adalah kalimah "keyakinan". Hanya dengan keyakinan yang betul maka Allah swt mengurniakan kepada hamba-hambaNya syurga yang lebih besar dan luas daripada langit dan bumi.

1.Tujuan Kalimah Laa ila ha illallah

    Tujuan kalimah ini adalah untuk memasukkan kebesaran Allah ke dalam hati kita dan mengeluarkan kebesaran makhluk dari hati kita. Untuk memasukkan kebesaran Allah ke dalam hati, hendaknya kita yakin bahawa Allah sahajalah yang berkuasa atas segala sesuatu yang dijadikanNya. Allah Taala dapat melakukan sesuatu tanpa pertolongan makhluk sedangkan makhluk tidak dapat berbuat sesuatu tanpa izin Allah swt.
    Contohnya, sifat api ialah panas tetapi ketika Raja Namrud melemparkan Nabi Ibrahim a.s ke dalam timbunan api, api tersebut tidak dapat membakar tubuh Nabi Ibrahim sedikitpun. Juga ketika Nabi Musa a.s beserta pengikutnya dikejar oleh Firaun dan tenteranya, Nabi Musa a.s dapat melintasi Laut Merah dengan selamat, tetapi laut yang sama juga Firaun dan tenteranya ditenggelamkan oleh Allah swt. Api dan air dapat mendatangkan kebaikan dan juga kemudharatan. Semuanya tergantung kepada Qudrat dan Iradat Allah swt. Maka, keyakinan yang mesti kita tanamkan adalah bahawa Allah maha berkuasa atas segala sesuatu.
    Oleh sebab itu, dalam kehidupan sehari-hari kita harus yakin bahawa rezeki itu berasal dari Allah swt dan bukanlah dari wang gaji suami/isteri kita. Suami/isteri kita hanyalah perantaraan asbab. Apabila sedang makan, kita harus meyakini bahawa yang mengeyangkan perut kita adalah Allah swt, bukan makanan. Semua perbuatan kita dapat terjadi dengan izin Allah swt. Apabila kita menjauhkan keyakinan dari kekuasaan makhluk dan menumpukan keyakinan hanya kepada zat dan kekuasaan Allah swt, maka Allah swt akan menundukkan makhluk untuk kita. Jadi, keyakinan seperti inilah yang sedang kita usahakan agar masuk ke dalam hati kita kaun keluarga kita dan ummat Rasulallah saw. Segala yang ada di dunia ini hanyalah asbab belaka, sedngkan kita tidak boleh yakin dengan asbab.

Kelebihan kalimah Laa ila ha illallah

Sabdaan Nabi saw mafhumnya:
1. Dari Anas r.a berkata bahawa Rasulallah saw bersabda." Tidak ada seorang pun yang mengucapkan Laa ila ha illallah pada satu waktu pada malam hari ataupun siang hari, melainkan dihapuskan keburukan-keburukannya (dosa-dosanya) dari buku catatan amalnya sehingga keburukan itu digantikan dengan kebaikan."

2. Dari Ibnu Abbas r.a, Rasulallah saw bersabda. " Demi dzat yang jiwaku ditanganNya, seandainya langit dan bumi dan segala isinya serta segala yang ada di dalamnya diletakkan di dalam sebuah timbangan(dacing) dan kalimah syahadah Laa ila ha illallah di sebelah yang lain, maka akan lebih beratlah timbangan yang berisi kalimah itu."

2. Tujuan Kalimah Muhammadur rasulallah

    Tujuan kalimah Muhammadur rasulallah adalah supaya kita meyakini bahawa hanya cara hidup Rasulallah saw yang akan membawa kita kepada kejayaan di dunia dan akhirat. Cara hidup lain hanya akan membawa kita kepada kegagalan.

Kelebihan kalimah Muhammadur rasulallah

    Rasulallah saw bersabda yang mafhumnya, " Orang yang berpegang teguh dengan sunnahku pada zaman yang fasad ini, maka baginya mendapatkan pahala 100 orang mati syahid."
    Hanya dengan mengikuti satu sunnah Rasulallah saw pada zaman yang telah rosak ini, maka Allah swt akan memberi pahala yang demikian besar. Ini menunjukkan betapa sayangnya Allah kepada hamba-hambanya.
    Para ulama berkata bahawa pada akhir zaman ini Allah swt lebih sayang 70 kali kepada hamba-hambaNya daripada sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Tetapi anehnya, masih ramai manusia yang tidak mahu mengikuti sunnah Rasulallah saw dalam kehidupan mereka. orang yang mengikuti sunnah Rasul, nanti di akhirat Allah akan memandang mereka dengan pandangan rahmat. Satu sunnah lebih baik daripada 7 dunia dan 7 syurga. Jika kita dapat hidupkan satu sunnah Rasulallah saw, di akhirat nanti Rasulallah saw akan memberi syafaat kepada kita dan memberi kita minum dari telaga Kauthar dengan tangan baginda sendiri. Mereka yang mengikuti sunnah Rasulallah saw akan mendapat 4 ganjaran di dunia dan 4 ganjaran di akhirat.
4 ganjaran di dunia ialah:
·                     dia akan disayangi orang
·                     dia akan ditakuti musuh
·                     hidupnya akan diberkati
·                     agamanya tidak akan dicemari dalam kehidupannya
4 ganjaran di akhirat pula ialah:
·                     Rasulallah saw akan dapat mengenalinya
·                     Rasulallah saw akan memohanlkan syafaat untuknya
·                     Di dalam kubur dia dapat mengenali Rasulallah saw
·                     Dia akan berjiran dengan Rasulallah saw di syurga
Cara mendapatkan hakikat kalimah toyyibah ini

    Kita perlu memperbanyakkan berkata tentang kebesaran Allah swt dan mendakwahkan kalimah ini kepada anak-anak,saudara mara,rakan taulan dan sesiapa sahaja. Pada malam hari pula kita memohon kepada Allah swt supaya Allah swt memberikan kita yakin dengan hakikat sifat sahabat yang pertama ini.

Wallahu 'alam.