Hadits Shahih
1. A. Arti Hadits Sahih :
Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar, yang dimaksud
dengan hadits shahih adalah hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang
adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak
janggal.
Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi
hadits shahih itu adalah hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan
dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Qur’an.B. Syarat-Syarat Hadits Shahih
Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih, maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini:
1.
Rawinya bersifat adil, artinya seorang rawi selalu
memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat, menjauhi dosa-dosa kecil,
tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman, dan tidak mengikuti
pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’
2.
Sempurna ingatan (dhabith), artinya ingatan seorang
rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak
daripada kesalahannya, menguasai apa yang diriwayatkan, memahami maksudnya dan
maknanya.
3.
Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad
yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain; tiap-tiap rawi dapat saling
bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits.
4.
Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar
yang dapat menodai keshahihan suatu hadits)
5.
Tidak janggal, artinya tidak ada pertentangan antara
suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang
diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya.
C. Klasifikasi Hadits Shahih
1.
Hadits Shahih li-dzatih yaitu hadits shahih yang
memenuhi syarat-syarat diatas.
Contoh:
Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu dibangun di
atas lima perkara. Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa bulan
Ramadhan dan berhajji.”
2.
Hadits Shahih li-ghairih yaitu hadits yang keadaan
perawinya kurang hafidz dan dlabith tetapi mereka masih terkenal orang yang
jujur hingga karenya berderajat hasan, lalu didapati padanya jalan lain yang
serupa atau lebih kuat, hal-hal yang dapat menutupi kekurangan yang menimpanya
itu.
Contoh:
Seandainya aku tidak menyusahkan ummatku,
pastilah aku perintahkan mereka untuk menggosok gigi tiap akan shalat (HR
Bukhari Muslim)
Hadits ini bila kita riwayatkan dari Bukhari dan
Muslim, menjadi hadits yang shahih dengan sendirinya. Karena keduanya
meriwayatkan dari jalan Al-A’raj bin Hurmuz (117 H) dari Abi Hurairah ra. Isnad
ini dengan jelas menetapkan keshahihan hadits.
Namun bila kita lihat lewat jalur periwayatan
At-Tirmizy, maka hadits ini statusnya menjadi shahih li ghairihi (menjadi
shahih karena ada hadits lainnya yang shahih). Berbeda dengan Bukhari dan
Muslim, At-Tirmizy meriwayatkan hadits ini lewat jalur Muhammad bin Amir yang
kurang kuat ingatannya. Lalu lewat jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah ra. Maka
segala riwayatnya dianggap hasan saja. Namun karena ada riwayat yang shahih
dari jalur lain, maka jadilah hadits ini shahih li ghairihi.
D. Kedudukan Hadits Shahih
Sebenarnya di dalam sebuah hadits yang berstatus shahih, masih ada level
atau martabat lagi. Ada yang tinggi nilai keshahihannya, ada yang menengah dan
ada yang agak rendah.Semuanya disebabkan oleh nilai kedhabitan (kekuatan ingatan) dan keadilan perawinya. Ada sebagian perawi yang punya kekuatan ingatan yang melebihi perawi lainnya. Demikian juga dari sisi ‘adalah-nya, masing-masing punya nilai sendiri-sendiri.
Kalau kita susun berdasarkan kriteria itu, maka kita bisa membuat daftar berdasarkan dari yang nilai keshahihannya paling tinggi ke yang paling rendah.
1.
Ashahhu’l-asanid
Hadits yang bersanad ashahhu’l-asanid, predikat
ini seringkali juga dikatakan dengan istilah silsilatuz-zahab. Diantara yang
mencapai level tertinggi adalah:
o Az-Zuhri
(Ibnu Syihab Al-Quraisi Al-Madani, seorang tabi’i yang jalil) dari Salim bin
Abdullah dari ayahnya (Abdullah bin Umar ra).
o Muhammad
bin Sirin dari Abidah bin Amr dari Ali bin Abi Thalib ra.
o Ibrahim
an-Nakha’i dari ‘Alqamah dari Ibnu Mas’ud ra.
Al-Bukhari mengatakan bahwa ashahhul asanid adalah
sanad dari Nafi’ dari Ibnu Umar ra. Sedangkan Abu Bakar bin Abi Syaibah
mengatakan bahwa Ashahhul asanid adalah sanad Az-Zuhri dari Ali bin Al-Nusain
dari ayahnya (Al-Husain bin Ali).
2.
Muttafaq-‘alaihi
Yaitu hadits shahih yang telah disepakati
keshahihannya oleh kedua imam hadits, Bukhary dan Muslim. Hadits ini
diriwayatkan oleh Bukhari dan juga oleh Muslim dengan riwayat yang satu dan
mereka berdua sepakat menshahihkannya. Diantara kitab-kitab yang mengumpulkan
hadits yang berstatus muttafaq alaihi ini adalah ‘Umdatul Ahkam karya Al-Imam
Abdul Ghani Al-Maqdisi (541-600H).
3.
Infrada bihi’l Bukhary
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary
sendiri, sedang Imam Muslim tidak meriwayatkan.
4.
Infrada bihi’l Muslim
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sendiri,
sedang Imam Bukhary tidak meriwayatkan.
5.
Shahihun ‘ala syartha’i’l-Bukhary wa Muslim
Hadits Shahih yang tidak secara langsung
dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, melainkan hadits itu telah memenuhi
kriteria atau syarat-syarat Bukhari-Muslim. Hadits dengan status seperti ini
disebut dengan istilah Shahihun ‘ala syartha’i’l-Bukhary wa Muslim. Meski
keduanya tidak meriwayatkan. Syarat-syaratnya yaitu rawi-rawi hadits yang
dikemukakan terdapat dalam kedua kitab shahih Bukhary atau Shahih Muslim.
Dikatakan demikian karena ada hadits tertentu
yang tidak terdapat di dalam kitab shahih Bukhari atau kitab Shahih Muslim,
namun memiliki perawi yang terdapat di dalam kedua kitab itu. Karena perawinya
diterima oleh Bukhari dan Muslim, maka meski hadits itu tidak tercantum di
dalam kedua kitab shahih, derajatnya dikatakan sebagai shahih juga, namun
dengan tambahan kata ‘ala syarti albukari wa muslim.
6.
Shahihun ‘ala syarthi’i’l-Bukhary
Hadits Shahih yang menurut syarat Bukhary sedang
beliau tidak meriwayatkannya.
7.
Shahihun ‘ala syarthi’i’l-Muslim
Hadits Shahih yang menurut syarat Muslim sedang
beliau tidak meriwayatkannya.
8.
Hadits Shahih lainnya
Yaitu yang tidak menurut salah satu syarat dari
Imam Bukhari dan Muslim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar